Showing posts with label psk surabaya. Show all posts
Showing posts with label psk surabaya. Show all posts

Monday, March 8, 2010

Psk Dolly Surabaya Nyabu di Bui

Saya akan menanggapi PSK Surabaya yang nekat nyabu sehingga di bui. Maka akan saya utarakan bagaimana PSK Surabaya ini bisa nyabu, berapa % PSK Surabaya yang pakai shabu-shabu. Ok akan saya jelaskan. PSK menkonsumsi shabu-shabu (SS) mungkin banyak ya, apalagi yang super sibuk. Alasan PSK menkonsumsi SS adalah agar dia lupa ingatan sesaat alias fly, orang yang fly menjadi mati rasa. Menjadi enjoy selalu. Misal jika orang yg fly itu kita pukul, dia tidak merasakanya. Tapi inilah yg dilakunan para "PSK" itu. Dia melakukanya agar rasa gugup/takut atau was-was selama melayani lelaki mesum tsb.

Surabaya - Agar kuat melayani tamu, Cindy Elvira alias Iesa (34) pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Dolly menkonsumsi shabu-shabu (SS). Iesa yang baru empat bulan berada di lokalisasi terbesar di Surabaya itu menjadi primadona.

Hampir setiap malam dirinya dikerubuti pria hidung belang. Tak ingin 'pengemarnya' kabur, Iesa menggunakan berbagai cara. Salah satunya dengan mengisap barang terlarang.

Namun, usaha Iesa untuk memuaskan pelanggannya, membawa masalah bagi warga Perumahan Pondok Mutiara Lestari, Bekasi, Jakarta. Dia kemudian berurusan dengan polisi. Iesa dijebloskan ke sel Mapolsek Sawahan bersama rekan kerjanya di wisma tersebut, Robby Kristian (32) warga Putat Jaya Timur.

"Kedua tersangka kita tangkap karena memiliki dan menyimpan SS," kata Kapolsek Sawahan AKP Sih Widodo S kepada wartawan di mapolsek, Jalan Tidar, Minggu (17/1/2010).

AKP Sih Widodo mengatakan, penangkapan dua tersangka itu berawal dari informasi tentang pesta SS di sebuah wisma di lokalisasi terbesar se-Indonesia itu. Polisi kemudian bergerak dan menggerebek kamar Iesa di wisma tempatnya tinggal. Polisi mengamankan barang bukti handphone, seperangkat alat hisap, pipet, dan satu poket SS seberat 0,3 gram.

"Shabu itu didapat dari tersangka Tuwek. Sekarang kita masih mengembangkan kasus ini," ujarnya.

Sementara itu, Cindy Elvira alias Iesa mengaku bekerja sebagai PSK sejak Oktober 2009 lalu. Janda satu anak yang pernah bekerja di sebuah hotel sebagai house keeping di Bali. Tarifnya Rp 150 ribu per jam, Iesa menjadi primadona dan mulau melayani tamunya sejak pukul 19.00 WIB-03.00 WIB dini hari. Dalam semalam Iesa dapat melayani 5-6 tamu pria hidung belang.

"Saya memakai baru tiga kali ini mas. Saya memakai karena terpaksa untuk menghilangkan capek-capek. Biasanya jam 03.00 WIB kan sudah sepi, kalau ada tamu lagi saya mengkonsumsinya," tutur Iesa.

Iesa mengaku jika ingin mengkonsumsi bersama Robby yang bekerja sebagai makelar di wisma membelinya. Satu poket SS seharga Rp 200 ribu dan diisap berdua masing-masing 5 kali isap setiap poketnya. "Saya nggak dapat komisi. Saya hanya disuruh dan dikonsumsi bersama di kamarnya," ungkap Robby.
(roi/wln)

Sunday, February 28, 2010

PSK Surabaya Pengindap HIV AIDS Bergerilya

Awas, hati-hati "PSK Surabaya Pengindap HIV AIDS" bisa saja anda temui di lokalisasi surabaya. Karena mereka selalu berpindah lokalisasi sebelum dikenal oleh pelanggan wisma di seputaran surabaya. Nama PSK Surabaya ini bisa diganti-ganti/samaran. Meski PSK cantik, tetapi sudah terkena HIV AIDS, waw..takut..!

Mia, PSK Pengidap HIV Aids yang Beroperasi di Tempat Hiburan Malam ingin Wujudkan Impian sebelum Maut Menjemput. Laki-laki yang suka “jajan" mungkin akan kaget begitu membaca kisah Mia (nama samaran, Red) ini. Begitu pula dengan orang yang pernah merampok dan memerkosa dia bulan lalu. Sebab, "wanita penghibur" berparas cantik yang biasa mangkal di tempat-tempat hiburan malam itu ternyata mengidap virus HIV.

KARDONO SETYORAKHMADI

SEKILAS tak tampak bahwa Mia termasuk pasien ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Wajahnya selalu terlihat riang dengan dandanan yang menor. Pembawaannya juga lincah dan energik.

Tapi, bila permukaan kulit putihnya dicermati betul, terutama di lengan dan kaki, akan tampak tanda-tanda fisik bahwa Mia terinfeksi virus HIV. Di kedua bagian tubuhnya itu kini terlihat bintik-bintik hitam, salah satu tanda orang mengidap HIV/AIDS.

“(Bintik-bintik) itu karena saya mengonsumsi obat viral (obat penambah sel darah putih, Red). Efeknya memang seperti ini,” jelas wanita kelahiran 25 tahun tersebut ringan.

Kepada Jawa Pos, Mia berterus terang bahwa dirinya kini menjadi pasien HIV dan seminggu sekali harus kontrol di Unit Perawatan Intermidiet Penyakit (UPIPI) RSU dr Soetomo. Dia diketahui tertular virus mematikan tersebut sejak 2006.

“Memang seperti itu keadaannya. Yang penting, hidup harus jalan terus,” ujarnya tenang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa HIV/AIDS boleh saja menggerogoti tubuhnya, namun tidak untuk semangat hidupnya.

Awalnya, Mia mengeluh karena batuk tak sembuh-sembuh. “Tiga bulan batuk saya tidak sembuh-sembuh. Kemudian, saya mengalami sesak napas. Aduh, rasanya mau mati saja,” ungkapnya.

Sejak itu, berat badan Mia turun drastis. Tubuhnya kurus dan dia gampang sakit. Oleh seorang kawannya, Mia lalu dipertemukan dengan Liliek Sulistyowati, pengelola Yayasan Abdi Asih, LSM yang wilayah geraknya di kawasan merah Gang Dolly dan sekitarnya. Mbak Vera -sapaan Liliek Sulistyowati- pun cukup kaget mendengar keluhan yang dilontarkan Mia. Dia langsung membawa Mia ke RSU dr Soetomo untuk mendapatkan diagnosis dokter.

“Saya sudah curiga bahwa Mia terkena HIV. Sebab, gejala-gejalanya memang seperti itu,” kata perempuan yang sering mengurusi ODHA dan para PSK marginal tersebut.

Kecurigaan Mbak Vera benar. Mia dinyatakan positif HIV. Mia pun disarankan rajin kontrol serta mengonsumsi obat viral untuk membantu melawan virus yang menghancurkan kekebalan tubuh tersebut. Mia sangat terpukul begitu mendengar vonis dokter itu. “Saya seperti divonis hukuman mati,” tegasnya.

Mia merasa seolah-olah garis hidupnya sudah dibatasi untuk tidak berlama-lama lagi di dunia. Dia pun sempat putus asa. Seminggu dirinya mengurung diri di kamar kos, tak punya gairah hidup lagi.

Tapi, kesadarannya tentang kematian yang sering muncul di benaknya membuat dirinya terpacu kembali untuk melanjutkan sisa hidupnya. “Waktu hidup saya mungkin singkat. Tapi, saya tak ingin menyia-nyiakannya,” ujarnya.

Dia kemudian berusaha menata hidupnya di jalan yang benar. Namun, berkali-kali melamar pekerjaan halal, Mia selalu ditolak. “Tak ada yang ingin mempekerjakan mantan PSK, apalagi pengidap HIV,” ungkapnya sedih.

Bahkan, untuk mencari tempat kos saja, Mia sering ditolak. “Saya sudah tiga kali diusir pemilik kos. Pertama di Kembang Kuning, kemudian di Putat Jaya, dan terakhir di Dukuh Kupang Timur. Pemilik kos takut begitu mengetahui saya menderita HIV.”

Sekarang, wanita asal Palembang tersebut tinggal di sebuah tempat kos bertarif Rp 250 ribu per bulan di kawasan Dukuh Kupang. “Pemiliknya belum tahu bahwa saya ODHA. Kalau tahu, mungkin saya diusir lagi,” katanya seraya meminta agar tidak menyebutkan persis alamat kosnya sekarang.

Meski uang kos ditanggung Mbak Vera, ternyata Mia tetap tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka, dia memutuskan tetap menjajakan diri lagi. Kali ini, wilayah operasinya semakin luas. Mulai diskotek, kafe, hingga hotel-hotel berbintang. “Saya tak ingin menetap di satu tempat, biar tidak gampang dihafal pelanggan,” jelasnya.

Meski fisiknya digerogoti virus mematikan, Mia ternyata tetap menarik perhatian para lelaki hidung belang. Sebab, penampilannya tak menunjukkan seperti orang yang sedang menderita penyakit berbahaya tersebut. “Tapi, saya tahu diri. Sejak sakit, saya sudah membatasi hanya akan menerima tamu, paling banyak tujuh orang dalam seminggu. Sekarang saya gampang capai,” katanya.

Tidak takut menulari pelanggan? Mia mengaku selalu menggunakan kondom saat berhubungan badan. “Ya, itu usaha saya biar tidak menulari tamu,” tegasnya.

Bukankah kondom tak menjamin pemakainya steril dari kemungkinan tertular virus HIV? Mia mengangkat bahu. “Kalau itu, isi di luar tanggung jawab percetakan,” katanya berkelakar.

Cobaan hidup, tampaknya, selalu dekat dengan Mia. Buktinya, sekitar sebulan lalu, dia dirampok oleh tamu yang mem-booking-nya di sebuah hotel. “Waktu itu hari Jumat. Saya ingat betul itu,” ujarnya.

Sebenarnya Mia sudah curiga pada tamu yang berpotongan cepak tersebut. “Dia bilang mau booking sampai pagi, tapi lagaknya seperti orang tak punya uang,” katanya.

Kecurigaan itu terbukti. Tamu tersebut merampok dirinya. Saat itu, kata Mia, tangan dan kakinya diikat di kasur. Setelah itu, si tamu dengan leluasa menggagahi dirinya. Usai menyalurkan hasrat, tamu tak dikenal tersebut merampas HP Nokia 1600 dan uang Rp 3,5 juta milik Mia. “Padahal, uang itu akan saya pakai untuk modal usaha,” jelasnya.

Dia ditinggalkan dalam keadaan terikat di kamar hotel, sebelum berhasil membebaskan diri dan melapor ke pihak hotel.

Meski menjadi korban perampokan dan perkosaan, Mia masih bisa tertawa pasca kejadian itu. “Sebab, saat memerkosa saya, dia tidak memakai kondom. Jadi, dia memang dapat HP dan uang saya, tapi juga dapat virus HIV. Biar matek,” tegasnya bernada jengkel.

Dia mengaku akan terus menjadi PSK sampai mempunyai modal yang cukup untuk membuka usaha yang halal. “Kalau tidak punya usaha apa-apa, saya mau makan apa? Apalagi, dengar-dengar, dokter Soetomo (RSU dr Soetomo, Red) berniat menghilangkan pemberian obat viral gratis itu kepada penderita HIV. Jadi, saya harus kerja lebih keras.”

Kendati kini menjadi pasien HIV, Mia masih menyimpan cita-cita hidup. “Saya ingin nikah. Kebetulan, ada seorang pria yang tak mempermasalahkan kondisi dan masa lalu saya dan bersedia menikahi saya,” ungkapnya sedikit malu-malu.

Kapan targetnya? “Saya ingin menikah tahun ini karena umur saya sudah 25 tahun,” ujarnya.

Selain menjadi ibu rumah tangga, Mia bertekad mandiri dan ingin mempunyai usaha halal. “Entah itu salon, warung, atau apa sajalah,” katanya.

Dua cita-cita itulah yang menguatkan semangatnya menghadapi gerogotan virus penyakit mematikan tersebut. “Doakan ya, semoga saya bisa mewujudkan kedua cita-cita itu sebelum mati nanti,” ujarnya dengan nada pilu. (ari)

Dikutip dari Jawapos Kamis, 14 Feb 2008,

Wednesday, February 17, 2010

PSK Surabaya, PSK Dolly dan pemburu Seks Surabaya

Dalam benak saya, saya ingin mengajak para PSK Surabaya, PSK Dolly, penghuni Doli Surabaya, pemburu seks surabaya untuk mengunjungi blog ini, berdiskusi, tanya jawab atau yang mau taubat silahkan komentar disini. Tapi apa PSK dolly punya laptop dan modem ya...? buat akses blog ini. Atau mereka tidak sempat membuka internet untuk browsing/surfing tentang kehidupan mereka yang dipaparkan di seantero jagat oleh Google.

Kalau para PSK Surabaya, PSK Dolly dan pemburu Seks Surabaya gak bisa internetan, lalu siapa yang akan masuk blog ini. Hehehe, ayo...anda yang baca di titik ini "ketangkap basah" sedang berburu. OK silahkan baca-baca isi blog ini, saya berdoa para PSK juga punya laptop sehingga bisa mengisi Blog ini yang miskin komentar. Jika para PSK punya fasilitas Internet gratis, maka semoga mereka bisa menemukan Jodoh dari blog ini. Ya, karena blog ini bisa menjadi ajang pertemuan antara "PSK Surabaya, PSK Dolly, Hidung Belang Seks Surabaya atau waria surabaya".


Setelah masuk blog ini semoga postinganya di ingat-ingat sampai beberapa hari, karena ilmu yang tidak diingat-ingat beberapa hari, ilmu itu akan hilang. Saya juga berpikir, apa pejabat juga bisa kesasar di blog ini, jika iya, mereka mencari dalam hal apa..? penelitian, atau membuat program kerja untuk mengarahkan ke kebaikan, atau untuk "olahraga".


Kenapa saya membuat Blog ini, ya karena saya yakin akan tiba zaman keemasan. Zaman semua orang akan serba berkecukupan, mereka kaya semua, tidak ada yang kekurangan. Sedekah tidak ada yang menerima lagi, karena mereka sudah cukup. Lalu Dolly Surabaya akan tutup, karena para WTS/PSK Surabaya sudah mendapat suami yang baik dan mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Kemudian pada hidung belang yang biasa merasakan manisnya wanita di Lokalisasi tiba-tiba bertaubat karena menemukan jodoh yang membimbingnya, jodoh yang menyadarkanya, jodoh yang membuatnya berkerja lebih giat untuk hidup bersama.


Apa ini bisa terjadi, saya jawab bisa. Pokok masalah sekarang adalah 90% uang di dunia ini di pegang orang kaya, disimpan dalam bank, di jadikan investasi, dijadikan pabrik dijadikan lapangan golf, dijadikan rumah, kebun dll. Lalu uang yang tinggal 10 % itu milik rakyat bersama. Suatu hal yang fantastis. Maka, jika hal ini di rubah, maka tidak ada orang yang miskin lagi. Perputaran uang tidak lagi di orang kaya saja, tetapi si miskin mendapat hak dari uang orang kaya itu. Jadi jika perputaran uang merata. Maka tidak ada ketakutan kekurangan uang, makan, harta, dan buah atau ketakutan perampokan. Gimana mau ngrampok, wong perampok hidupnya sudah cukup dan orang kaya juga taubat gak lagi tertalu kaya. Semua harta dibagi merata.


Saya jadi teringat kisah Nabi, Beliau tidak dapat tidur jika masih ada sekantong dirham di rumahnya. Maka beliau akan keluar mebawa harta itu dan membagikannya pada orang miskin yang Beliau temui, lalu beliau pulang dan tidur. Maka sewaktu meninggal yang tertinggal di rumahnya hanya beberapa dirham, perkakas dapur dan tempat air. Padahal beliau adalah Pemimpin pemerintahan, hakim jika ada masalah, jendral jika berangkat perang, pelindung jika ada yang mengadu, pemberi makan jika ada yang mengadu lapar, Ahli sujud dikala 1/3 malam saat orang terlelap.


Lho kok jadi kesini arah pembicaraanya.........zzzzzzzz.